SELAMAT DATANG DI BLOG SENI-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

10/21/2011

PERALATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PERTUNJUKKAN WAYANG

Apabila kita membicarakan wayang, maka perlu juga kita bicarakan hal-hal lain yang terkait dengan wayang seperti : kelir, gedebog, blencong, gamelan dan gending-gending
dan sebagainya.
a. Kelir
Kelir adalah kain putih yang dibentangkan sebagai tempat pertunjukan wayang. Ukurannya lebih kurang 1½ X 6 meter. Disekeliling kelir diberi kain (plipit) merah atau kuning yang lebarnya lebih kurang 10 centimeter. Plipit atas disebut ‘palangitan’ (langit), sedang plipit bawah disebut ‘palemahan’ (bumi).
Kelir terbagi menjadi tiga bagian yaitu : tengah yang disebut ‘panggung’ yaitu tempat pertunjukan, sedang kiri dan kanan tempat menancapkan wayang simpingan. Sebelah kanan untuk tokoh wayang yang berkarakter baik seperti : Pandawa serta pendukungnya, sedang sebelah kiri ditempati wayang simpingan dengan karakter jahat seperti : Kurawa, Raksasa (buto) dan pendukungnya.
b. Gedebog
Gedebog adalah pohon pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang sehingga dapat berdiri. Dalam setiap pertunjukan dibutuhkan tiga batang pohon pisang (gedebog). Dua batang dipasang dibawah sepanjang kelir, sedang sebatang dipasang ditengah-tengah dibawah batang yang pertama.

c. Blencong
Blencong adalah penerangan (lampu) yang digunakan dalam pertunjukan wayang, sehingga bayangan wayang dapat terlihat di kelir. Sebelum ada listrik dan petromak, blencong berupa penerangan dengan minyak tanah dicampur minyak goreng, sehingga nyalanya stabil dan terang.
Disebut blencong, karena penempatannya agak mlenceng kesamping kanan lebih kurang 90 centimeter dari tengah-tengah kelir, untuk memudahkan dalang dalam mempertahankan nyalanya api. Namun dijaman yang sudah modern sekarang ini, blencong terbuat dari lampu listrik dengan warna yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan adegan yang sedang berlangsung.
d. Gamelan dan Gending
Gamelan adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : gender, gambang, kenong, bonang, panembung, slentem, rebab, kendhang gong kempul dan sebagainya. Sekarang gamelan ditambah dengan alat musik modern seperti: gitar, keyboard dan drum, sehingga dapat menyuguhkan musik yang bervariatif seperti: dangdut, keroncong, bahkan musik barat.
Selain dalam pewayangan gamelan dapat digunakan tersendiri sebagai musik pengiring tarian atau hiburan, jika ada orang hajatan. Gamelan juga pernah digunakan oleh wali sebagai media dakwah dalam menyebarkan ajaran Islam. Bahkan ada wali yang sangat mahir memainkan gamelan berupa bonang, sehingga beliau mendapat gelar Sunan Bonang.
Gamelan yang ditabuh menghasilkan suara yang merdu untuk mengiringi syair (tembang), syair-syair yang terkenal di Jawa bernama Macapat. Sedang pujangga/ seniman yang terkenal dengan syair-syairnya antara lain R. Ng. Ranggawarsita dan KPAA. Mangkunegaran IV. Bahkan dalam karyanya R.Ng. Ranggawarsita diakini sebagai ramalan yang akan terjadi, karya itu ada lima yaitu: serat Kalitidha, serat Sabda Jati, serat Sabdatama, serat Jaka Lodhang, dan serat Wedharaga. perpaduan antara suara gamelan dan tembang disebut ‘gending’. Dalam pertunjukan wayang gending-gendingnya disesuaikan dengan adegan yang berlangsung serta menggambarkan kehidupan yang sedang berlangsung. Dalam pewayangan Jawa Timur-an gamelan atau gending dibagi menjadi empat bagian yaitu : 1) Pathet Wolu dan Pathet Sepuluh digunakan sebagai gending pembuka sebelum jejer/ pertunjukan dimulai, 2) Pathet Sepuluh naik sampai Pathet Wolu mengiringi jejer pertama sampai adegan perang Gagal, 3) Pathet Sanga mengiringi jejeran selanjutnya sampai hampir pagi, 4) Pathet Serang terus kembali ke Pathet Sanga sebagai iringi penutup hingga kayon (gunungan) ditancapkan di tengah kelir sebagai pertanda pertunjukan telah selesai.
Sedang pada pertunjukan wayang di Jawa Tengah dan Yogyakarta, gending dibagi menjadi : 1) Pathet Nem sebagai simbol masa kanak-kanak, 2) Pathet Sanga sebagai simbol masa remaja, 3) Pathet Manyura simbol masa dewasa, dan 4) Galong sebagai simbol masa tua.

Tidak ada komentar: