SELAMAT DATANG DI BLOG SENI-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

6/28/2011

CERITA WAYANG 2 (KALIMASADA)

Tidak banyak lakon (cerita) yang menyertakan Jimat Kalimasada sebagai masalah khusus. Ini hanya terdapat pada lakon-lakon seperti Mbangun Candi Sabtorenggo, Mustokoweni, Petruk dadi ratu
, Pandu Bragolo dan sekilas dalam salah satu episode Bharatayuda pada saat Prabu Puntadewa (Yudhistira) berhadapan dengan Prabu Salya.
Prof. Dr. Purbocaroko menyebut Kalimasada dengan Kalimahusada (kalimah-husada = zaman terbesar-obat) hal tersebut dikutip S. Haryanto dalam buku bayang-bayang Adiluhung. Pengertian bebas dari kalimahusada adalah : husada (obat) terbesar yang dapat digunakan sepanjang zaman dan secara pedagogik adalah suatu ajaran atau nilai-nilai luhur yang dapat dipakai sepanjang zaman.
Diceritakan bahwa pada bertepatan dengan tahun Wirakuradi Suryasangkala 638 Saka yang ditandai dengan sengkalan Brahmana uninga rasaning kamuksan atau Candrasangkala 657 Saka dan ditandai dengan sengkalan Resi amisik rasaning kasampurnaan, Resi Abyasa, kakek Pandawa dan Kurawa bertemu dengan Ilya, seorang anak lumpuh yang dapat bergerak dengan cekatan dan menantang sang Resi untuk berlomba lari dengan taruhan yang kalah harus mengabdi kepada yang menang. Resi Abyasa yang pernah berguru kepada Gandarwa Rajaswala menerima tantangan tersebut karena merasa yakin akan menang. Akan tetapi dari seluruh pertandingan ternyata sang Resi mengalami kekalahan terus menerus. Meskipun demikian dalam kekelahannya ia sangat puas karena memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Dari cerita ini dapat diambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sombong dan menganggap rendah orang lain walaupun orang tersebut mempunyai kekurangan (cacat). Bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Pada akhir perlombaan sang Resi merasa tertegun, karena melihat cahaya yang terpancar dari Ratna Manikmaya Windradi menerangi seluruh triloka. Disitulah Ilya kembali ke dalam wujud sejatinya yang tidak dapat dilihat lagi oleh Resi Abyasa. Wujudnya telah lenyap, hanya suara wejangan yang terdengar oleh Abyasa. Wejangan itu menyangkut masalah sangkan paraning dumadi (asal muasal segala yang ada), sesembahan sejati yang bersifat manunggaling kawula Gusti (tunggal dan maha suci) awal dari laku serta penghayatan pamoring kawula Gusti, persiapan utuk membangun istana bagi dzat Agung dalam rangka menggulung dan melepaskan jagad alit (mikro cosmos) agar dapat mernguasai jagad agung (makro cosmos) yang akhirnya menemukan jalan menuju kesempurnaan sejati. Pelajaran dari cerita ini adalah kesombongan akan menutupi kebenaran (orang sombong tidak dapat melihat kebenaran). Untuk mencapai kepada Tuhan/ Allah (makro cosmos) harus melepas segala nafsu keduniawian (mikro cocmos).

1 komentar:

erik mengatakan...

Siang sobat..terima kasih sudah berkunjung keblog saya......follow saya dah sukses......
sayang yah wayang sudah jarang nongol di TV padahal aku salah 1 penggemarnya lohhh