SELAMAT DATANG DI BLOG SENI-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

6/23/2011

CERITA WAYANG 1 (DEWA RUCI)

Menurut para ahli, cerita Dewa Ruci dianggap cukup berbobot dan sering menjadi bahan pembicaraan dalam forum sarasehan ataupun diskusi, walaupun cerita
ini tidak terdapat dalam kitab Mahabarata, bahkan nama Dewa Ruci pun tidak terdapat dalam jajaran nama-nama dewa.
Konon cerita Dewa Ruci sudah dikenal sejak permulaan abad ke-XV (1450) pada masa masuknya agama Islam di pulau Jawa, dan pujangga besar Yosodipuro I telah menterjemahkannya dalam bahasa Jawa modern pada tahun 1793 dengan sengkalan nir-ning sikara wiku tunggal (1720 tahun Jawa/ Saka). Penulisan kedua kalinya dikerjakan pada tahun 1803 dengan sengkalan maletiking dahana goraningrat (1730 Saka) berbentuk tembang dengan metrum Jawa Kuna (tembang gede).

Dilihat dari segi etika masyarakat Jawa, cerita Dewa Ruci mengandung pelajaran-pelajaran seperti :

1. Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, artinya bahwa sifat pengasih mengalahkan semua bentuk kejahatan, atau kebenaran mengalahkan angkara murka.

2. Sapa temen bakal tinemu, artinya segala sesuatu akan berhasil bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini sesuai dengan Firman Allah :

Artinya: “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,(5) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (6).” (QS. Alam Nasyrah : 5-6).

Cerita ini terdiri dari tiga episode, yaitu episode pertama menceritakan ketika Bima memasuki gua Durangga yang berbentuk sumur dan dapat membunuh ular naga penjelmaan bidadari Dewi Maheswari. Dalam episode ini memberi pelajaran bahwa kita harus instrospeksi atau mawas diri dalam kehidupan fana yang paling dalam, sehingga terjadilah yang disebut homo homini lupus. Untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup harus dapat menahan hawa nafsu. Ular naga yang merupakan jelmaan bidadari adalah simbol godaan hawa nafsu yang apabila dituruti akan membawa kita kepada celaka.

Dalam episode kedua menceritakan ketika Bima berada dipuncak gunung Candradimuka atau wukir rebabu, ia dapat mengalahkan dua raksasa yang bernama Rukmuka dan Rukmakala yang merupakan penjelmaan dari Bhatara Indra dan Bhatara bayu. Gunung Candradimuka adalah pelambang keluhuran watak, kejujuran dan susila, sedang kedua raksasa melambangkan nafsu insani, kebodohan atau kepalsuan. Dengan demikian pelajaran yang terkandung dalam episode ini adalah berhasilnya Bima dalam menundukkan nafsu hewani yang ada dalam diri pribadi.

Pada episode ketiga yang merupakan episode terakhir dalam cerita ini, Bima diperintahkan masuk ke dalam telenging samudra (dasar laut). Di dalam samudra Bima dapat mengalahkan ular naga yang bernama Nemburnawa atau Rajapanulah. Telenging samudra merupakan lambang bentuk-bentuk pikiran, pencampurbauran kesadaran duniawi dengan kesadaran Illahi. Sedang ular naga adalah lambang pikiran sesat, pikiran yang bersifat menipu dan kepercayaan palsu. Dalam episode ini dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mencapai kepada hakikat Gusti (Illahi), maka harus dapat mengalahkan pikiran-pikiran sesat yang selalu ada pada diri manusia.

3 komentar:

ERNI DESTIARINI mengatakan...

keren pak !

ALARM mengatakan...

Matur suwum mbah

Hanifa Free Download mengatakan...

Sory sob lambat postingnya, maklum lagi banyak kesibukan...
ini resetternya sob....
Posting cara mereset printer Epson C58