SELAMAT DATANG DI BLOG SENI-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

5/22/2011

PERKEMBANGAN WAYANG

Meskipun asal usul wayang, belum dapat ditentukan dengan pasti, namun penulis-penulis Indonesia cenderung mengikuti teori Hazeau yang mengatakan wayang berasal
dari suatu upacara keagamaan untuk memuja nenek moyang yang disebut Hyang.
Atas dasar ini mereka kemudian menyusun periodesasi perkembangan wayang di Indonesia. Periodisasi tersebut terdiri dari lima periode yaitu : Zaman Prasejarah, zaman Mataram, Zaman Jawa Timur, Zaman Kedatangan Islam, dan Zaman Indonesia Merdeka.

1. Zaman Prasejarah
Menurut Mulyono yang mengikuti Hazeau bahwa pertunjukan wayang yang mula-mula berfungsi magis-mitos religius, sebagai upacara pemujaan pada arwah nenek moyang yang disebut “Hyang”. Kedatangan arwah nenek moyang ini diwujudkan dalam bentuk bayangan, dan mereka datang oleh karena diminta memberikan restu atau pertolongan. Dalam bentuknya yang mula-mula wayang dibuat dari kulit dan menggambarkan arwah nenek moyang. Lakon wayang dalam zaman ini menceritakan kepahlawanan dan petuangan nenek moyang. Pertunjukan biasanya diadakan pada malam hari di rumah, halaman rumah atau tempat yang dianggap keramat. Dengan menggunakan bahasa Jawa kuno murni. Kepustakaan wayang belum ada, cerita-cerita secara lisan diturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya.
2. Zaman Mataram I
Pada zaman ini wayang tidak hanya berfungsi magis-mitos-religius, tetapi juga berfungsi sebagai alat pendidikan dan komunikasi. Cerita diambil dari “Ramayana” dan “Mahabarata” yang sudah diberi sifat lokal dan bercampur mitos kuno tradisional (pahlawan-pahlawan dalam kitab-kitab itu menjadi pahlawan-pahlawan dan dewa-dewa mereka, sejajar dengan nenek moyang mereka sendiri). Cerita-cerita pewayangan mulai ditulis secara teratur (kitab Ramayana ditulis pada ± tahun 903 M). pertunjukan wayang sudah ada pada tahun 907 seperti dibuktikan oleh prasasti Balitung.
3. Zaman Jawa Timur
Pertunjukan wayang kulit purwa pada zaman ini sudah mencapai sempurna, sehingga dapat mengharukan hati para penontonnya. Wayang daun rontal dibuat pada tahun 939 menggambarkan para dewa, ksatria, dan pandawa. Para punakawan yang mengawal para ksatria, dapat dilihat pada candi penataran (1197) dan pada Gatutkaca Sraya (1188), sedang wayang gabungan (kayon) terdapat di candi Jago (1343). Nama Semar baru terdapat pada kitab Sudamala (candi Sukun 1440) dan kitab Naworuci (abad XV). Wayang beber purwa yang dibuat dari kertas dan menggunakan gamelan slendro terdapat pada tahun 1361.
Pertunjukan wayang pada zaman ini dilakukan pada malam hari (kecuali untuk cerita “Murwakala”), di rumah atau tempat yang dianggap keramat, oleh seorang sakti, kepala keluarga atau kadang-kadang oleh raja sendiri. Bahasa yang digunakan bahasa Jawa Kuno dengan kata-kata Sansekerta. Pada zaman Majapahit II (± 1440) mulai terdapat kitab-kitab pewayangan seperti Tantu Panggelaran, Sudamala, Dewaruci, Korawa Crama, dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Jawa Tengahan.
4. Zaman Kedatangan Islam
Pada zaman ini wayang berfungsi sebagai alat dakwah, alat pendidikan dan komunikasi, sumber sastra dan budaya, serta sebagai hiburan. Ceritanya diambil dari cerita-cerita Babad yakni percampuradukan antara epos Ramayana / Mahabarata versi Indonesia dengan cerita Arab/ Islam. Wayang berbentuk pipih menyerupai bentuk bayangan seperti yang kita lihat sekarang. Wayang kulit purwa disempurnakan bentuknya (cara pembuatannya, alat kulit, debog, blencong, dan lain-lainnya) agar tidak bertentangan dengan agama. Pertunjukan wayang dipimpin oleh seorang dalang. Jumlah wayang ditambah, antara lain : wayang Betara Guru, Buta Cakil, dan lain-lainnya. Gamelan slendro mulai digunakan (± 1521). Pertunjukan diadakan pada malam hari selama semalam penuh. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Tengahan (1476-17150 dan bahasa Jawa baru (1715-sekarang).
5. Zaman Indonesia Merdeka
Pada zaman Indonesia merdeka wayang merupakan suatu pertunjukan kesenian. Suatu seni teater total, yang berfungsi tidak saja sebgai hiburan tetapi juga untuk pendidikan, komunikasi massa, pendidikan kesenian, pendidikan sastra, filsafat, agama, dan lain-lainnya. Wayang-wayang baru mulai dipertunjukan, seperti : wayang suluh, pancasila, dan perjuangan (±1947), wayang wahyu (± 1969), wayang berbahasa Indonesia dan lain sebagainya.

1 komentar:

Mbah Dukun mengatakan...

semoga tradisi wayang tetap dilestarikan ya mbah, tapi harus sesuai aturan agama, biar gak syirik. keep posting