SELAMAT DATANG DI BLOG SENI-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

3/15/2011

PENGERTIAN WAYANG

Menurut Sri Mulyono, kata wayang berasal dari bahasa Indonesia (Jawa) asli, yang berarti bayang-bayang, atau bayang yang berasal dari akar kata “yang”
kemudian mendapat imbuhan “wa” sehingga menjadi wayang.
Lebih lanjut Sri Mulyono mengatakan:
“Kata wayang didalam bahasa Indonesia mempunyai akar kata “yang”. Akar kata ini bervariasi dengan kata yung, yong, yang antara lain terdapat dalam kata “layang” yang artinya terbang, “doyong” yang artinya miring, “royong” yang berarti selalu bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain, “poyang-payingan” yang berarti berjalan sempoyongan/ tidak tenang, dan lainnya. Dengan perbandingan berbagai pengertian akar kata serta variasinya itu, dapatlah dikemukakan bahwa arti dasarnya adalah tidak stabil/ tidak pasti”

Sedang menurut Kusumajadi sebagaimana dikutip Drs. Sunarto dalam bukunya Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta, mengartikan sebagai berikut : “wayang ialah bayangan orang yang sudah meninggal, jadi orang yang digambar itu sudah meninggal”, lebih lanjut ia menjelaskan kata wayang terdiri dari dua suku kata yaitu wa dan yang. Wa artinya trah atau keturunan, sedang yang berarti hyang atau eyang kakek, yaitu leluhur yang telah meninggal.
Sunarto sendiri berpendapat bahwa wayang dapat diartikan bayangan angan-angan, yaitu menggambarkan nenek moyang (leluhur) menurut angan-angan, karena terciptanya segala bentuk wayang disesuaikan dengan adat kelakuan tokoh yang dibayangkan dalam angan-angan tersebut Sedangkan S. Haryanto berpendapat bahwa wayang berarti bayang atau bayang-bayang, dalam kaitannya dengan religi dimaksudkan sebagai pemujaan roh leluhur
Menurut Dr. Soedarsono sebagaimana dikutip oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) dalam Serat Wewaton Pedhalangan Jawi Wetanan I, ia berpendapat bahwa wayang sama dengan “shadow play” yang berarti cerita/ pertunjukan dalam bentuk bayangan, yaitu pertunjukan yang dilakukan dibalik kelir (tabir kain putih sebagai gelanggang pertunjukan wayang). Namun pendapat tersebut ditolak oleh Soenarto Timoer yang berpendapat bahwa wayang lain dengan “shadow play”, tetapi wayang mempunyai arti lebih dari sekedar bayang hitam yang tampak dari balik kelir, namun arti wayang yang sebenarnya adalah menggambarkan bayangan kehidupan nyata, sehingga tidak ada kaitannya dengan bayang-bayang berupa silhuet hitam yang terlihat dikelir akibat adanya sesuatu benda yang disinari dengan blencong.
Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pokok/ inti dari kata wayang adalah bayangan, baik itu bayangan pada kelir/ shadow play, bayangan keturunan leluhur yang telah meninggal, bayangan angan-angan, maupun bayangan kehidupan nyata. Jadi inti dari kata wayang adalah bayangan.
Selain itu wayang disebut juga dengan nama Ringgit Purwa, yang berasal dari kata Ri (Sunan Giri), Nggit (nganggit/menyetujui), dan Purwa (Pertama). Dinamakan demikian karena Sunan Giri-lah yang pertama kali menyetujui usulan Sunan Kalijaga agar peresmian Masjid Agung Demak dibuka dengan pertunjukan wayang. Pada mulanya usulan Sunan Kalijaga tersebut ditolak oleh para Wali Songo termasuk Sunan Giri, dengan alasan wayang (yang pada masa itu bergambar manusia) hukumnya haram dalam ajaran Islam.
Sunan Kalijaga yang berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan Giri. Sebelumnya Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang, sehingga gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi, tetapi lebih mirip karikatur seperti bentuk wayang kulit yang ada sekarang ini. Karena perubahan bentuk wayang kulit tersebut disebabkan sanggahan Sunan Giri, maka Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu dengan memberi nama pemimpin para dewa dalam pewayangan dengan sebutan Sang Hyang Girinata yang arti sebenarnya adalah Eyang Sunan Giri yang Menata. Kata Sang Hyang menurut Kamus Bausastra Jarwa-Kawi berarti mengijinkan yang berasal dari kata sahyan sehingga dapat diartikan Sunan Giri mengijinkan menata (wayang) tersebut.

Tidak ada komentar: