SELAMAT DATANG DI BLOG SENI-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

10/13/2010

WAWASAN SENI

Seni adalah ciptaan manusia dan selalu ada dalam segala lapisan masyarakat sejak zaman pra sejarah sampai sekarang, bahkan yang akan datang. Ditinjau dari
aspek kehidupan manusia, seni selalu dikaitkan dengan fungsi, namun setelah mengenal religi, seni berubah fungsi sebagai sarana pemujaan. Setelah zaman Renaissance, seni berusaha keluar dari keperluan religi sehingga muncul semboyan “seni untuk seni”. Sifat seni yang universal memiliki kedudukan yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan pola hidup manusia sendiri, namun seni tetap berperan dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah manusia sendiri.

Seni merupakan hasil karya akal-budi dan penalaran manusia yang bernilai tinggi, seni adalah bagian langsung dari kehidupan manusia yang sama pentingnya dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Seni lahir dan berkembang sejalan dengan lahir dan berkembangnya umat manusia di muka bumi ini.

1.1. PENGERTIAN SENI
Seperti telah dikatakan di muka bahwa seni adalah bagian dari kebudayaan manusia, dengan demikian dapat diartikan juga bahwa seni merupakan daya upaya manusia yang melibatkan akal, pikiran, budi dan perasaannya pada suatu kurun waktu tertentu. Dapat dikatakan bahwa seni pada dasarnya adalah kegiatan menangkap objek atau peristiwa di sekitar kita dan memberi kesan tersendiri baik visual maupun nonvisual. Berdasarkan kenyataan tersebut maka rasanya sangat sulit untuk membuat batasan tentang pengertian seni secara baku dan pasti, karena seni sebagai bagian dari kebudayaan manusia berkaiatan erat dengan seluruh kehidupan manusia, hidup yang sangat luas dan rumit, yang tidak dapat dibatasi apalagi dipastikan

Tapi bagaimanapun sulitnya, suatu batasan tentang pengertian seni tetap harus dicetuskan, sekedar untuk mendekatkan serta memudahkan kita membahas masalah-masalah seni pada bab-bab selanjutnya.
Beberapa batasan tentang pengertian seni yang telah dibuat oleh para pakar seni dan budayawan antara lain :
1. Drs. Popo Iskandar berpendapat, seni adalah hasil ungkapan emosi yang ingin disampaikan kepada orang lain dalam kesadaran hidup bermasyarakat / berkelompok.
2. Ahdian Karta Miharja, seni adalah kegiatan rohani yang merefleksikan realitas dalam suatu karya yang bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam rohaninya penerimanya.
3. Ki Hajar Dewantara, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakan jiwa perasaan manusia.
4. Plato dan Reuseau berpendapat bahwa seni pada hakikatnya adalah hasil peniruan dari alam dengan segala seginya. Seni yang dihasilkan tentu saja sifatnya naturalistis, artinya ketepatan bentuka alam sangat diutamakan dalam penciptaannya.
5. Aristoteles murid Plato yang patuh menambahkan bahwa peniruan terhadap alam itu harus ideal, maksudnya di dalam menciptakan seni yang berpijak pada bentuk alam itu hasil seninya sehingga lebih indah daripada yang ditiru.
6. Paul Klee memberi batasan bahwa seni bukan sekedar refleksi hal-hal yang kasat mata, bahkan dari inner world (alam batin/alam kejiwaan) yang semula tidak tampak menjadi tampak. Paul Klee bertolak dari pendapat bahwa dalam penciptaan seni yang utama adalah penuangan kehidupan batin sehingga menjadi hasil seni yang mempunyai nilai estetis.
7. Herbert Read memberi batasan tentang seni sangat singkat bahwa seni adalah ekspresi. Dalam hal ini, Herbert Read mengutamakan aktifitas seniman dari pembentukan ide seni sampai pada pernyataannya.
8. Drs. Sudarmaji memberi batasan bahwa batasan seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan media grafis, warna, tekstur, volume dan ruang.
9. I Gede Bagus Sugriwa menerangkan bahwa menurut etimologi kata seni berasal dari bahasa sansekerta Sani yang berarti penyembahan, pelayanan, atau pemberian. Hal itu dihubungkan dengan kepentingan bahwa seni bertalian erat dengan agama.
10. Di dalam buku Salah Asuhan karangan Abdul Muis, seni diartikan halus, demikian pula pada buku Sejarah Melayu.
11. Ensiklopedi Indonesia menyebutkan bahwa seni/ kesenian meliputi penciptaan dari segala hal atau benda yang karena keindahan bentuknya, orang senang melihatnya atau mendengarkannya.
Selain yang telah disampaikan di atas, terdapat pengertian seni lainnya yaitu :
1. Seni adalah suatu usaha untu menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan.
2. Seni adalah emosi yang menjelma menjadi suatu ciptaan yang kongkrit.
3. Seni adalah hasil getaran jiwa dan keselarasan dari perasaan serta pikiran yang mewujudkan sesuatu yang indah dan murni.
4. Seni adalah pengalaman estetik yang diwujudkan melalui kegiatan kreatif yang menghasilkan karya pesona.
5. Seni adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk karya yang indah.

Dari beberapa batasan di atas kita dapat melihat bahwa seni erat hubungannya dengan kegiatan menciptakan atau mewujudkan sesuatu. ‘Sesuatu’ tersebut adalah ide baik dalam bentuk gagasan, pengalaman, pengetahuan dan sebagainya; supaya ide yang ingin diwujudkan atau diciptakan tersebut bias sampai dan mudah diterima oleh orang lain maka perwujudannya harus memenuhi syarat-syarat estetik tertentu.
Bentuk dari perwujudan ide tersebut bias bermacam-macam, tergantung pada kebijakan dan kemampua senimannya, misalnya bias disampaikan melalui seni musik, seni drama, seni rupa, seni sastra dan sebagainya.
Mutu atau kualitas dari suatu karya seni banyak ditentukan oleh pengalaman dan kematangan jiwa senimannya di samping penguasaan teknik dalam penggarapannya.

Dalam salah satu batasan pengertian seni diatas disinggung mengenai estetika dan kreatif, keduanya adalah istilah yang banyak muncul dalam setiap bahasan mengenai seni khususnya seni rupa.

Estetik atau estetika sering dihubungkan dengan cabang ilmu filsafat tentang keindahan yaitu Teori keindahan (Theory of Beauty) yang menerangkan dan membahas bagaimana keindahan tersebut. Mengenai keindahan sendiri ada dua kelompok pendapat yang berbeda yang dikenal dengan teori objektif dan teori subjektif.

A. Teori Obketif
Menurut teori ini keindahan memeng terdapat pada bendanya, artinya suatu benda yang indah memang memiliki ciri-ciri , sifat atau kualitas keindahan yang dihasilkan oleh perimbangan antara bagian-bagian atau unsur-unsur yang menyusun benda tersebut. Teori objektif ini dianut antara lain oleh Plato, Hegel, dan Bernard Bosanquet.

B. Teori Subjektif
Teor menganggap bahwa suatu benda yang dikatakan indah sebenarnya tidak memiliki ciri-ciri atau sifat yang menciptakan keindahannya, artinya keindahan itu tidak melekat pada bendanya. Keindahan yang sebenarnya adalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati benda tersebut.

Kedua teori tentang estetika tersebut pada dasarnya adalah benar, keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Teori objetifitas tentang keindahan yang berdasar pada perimbangan ukuran antar bagian atau unsur suatu benda memang dirasa kurang kena, karena pada kenyataannya keindahan tidak selalu berhubungan dengan keteraturan atau perimbangan. Banyak karya seni yang tidak indah (menurut sebagian orang) tetapi tetap baik, menarik dan bernilai tinggi. Sebagai contoh adalah patung karya suku Asmat-Irian Jaya, lukisan ekspresionis, lukisan abstrak, dan lain sebagainya.
Sementara itu sebagian ahli estetik menyatakan bahwa suatu benda dapat dikatakan memiliki nilai estetik atau nilai keindahan apabila benda tersebut mempunyai sesuatu yang memang menyenangkan. Monroe Breadsky dalam bukunya yang berjudul ”Aesthetic : Problems in the Philosophy of Criticism” menyebutkan sesuatu yang menyenangkan tersebut sebagai ciri-ciri estetik, yaitu :
a. Kesatuan (Unity)
Suatu benda dikatakan memiliki nilai estetis harus merupakan kesatuan dan perpaduan dari unsur-unsur pembentuknya secara baik dan sempurna.
b. Kerumitan (Complexity)
Suatu benda dikatakan memiliki nilai estetis pada dasarnya tidaklah sederhana, dalam pengertian mengandung unsur-unsur yang berpadu dengan kerumitan tertentu seperti saling bertentangan, saling berlawanan, saling menyeimbangkan dan sebagainya
c. Kesungguhan (Intensity)
Suatu benda dikatakan memiliki nilai estetis bukanlah suatu benda yang kosong, melainkan suatu benda yang memiliki kualitas atau nilai tertentu yang menonjol dalam penampilannya. Nilai itu bisa bersifat lembut atau kasar, gembira atau duka, suram atau ceria dan sebagainya yang ditampilkan secara bersungguh-sungguh.

Tidak ada komentar: